KELABU




Aku bukan hitam
Yang berani menunjukkan kegelapan

Aku juga bukan putih
Yang suci, murni dan bersih

Aku kelabu
Tanpa definisi

Aku iri pada hitam
yang memiliki karakter kuat walau kelam
tak goyah walau orang bergunjing tajam


Aku tahu takkan menjadi putih
yang menolong tanpa pamrih
punya hati suci dan rela berbelas kasih

Aku kelabu
bukan hitam atau putih

TERORIS

Sekarang akulah penguasa gedung ini. Gedung yang baru saja dikosongkan 30 menit yang lalu berubah dari hiruk pikuk menjadi hening mencekam. Namun aku tahu telah terjadi keributan besar diluar sana, terutama di atap gedung, dan disanalah aku akan buktikan pada dunia bahwa aku telah melakukan hal yang benar dan dunia wajib berterimakasih bahkan memberiku penghargaan.


Senjata api jenis revoler tepat kuarahkan di kepala si tua bangka dan silindernya telah penuh dengan peluru, hammernya pun telah kutarik, hidup si tua ini hanya bergantung pada telunjukku.


Entah apa yang orang-orang banggakan dari orang tua busuk yang telah banyak menghabiskan uang negara. Tak hanya itu dosa besar yang ia perbuat, masih ada kasus penyuapan, adu domba bahkan pembunuhan. Bagaimana cara ia menghindari hukuman? Cukup merahasiakan atau mengalihkannya. mengambinghitamkan orang-orang yang tak setia padanya atau orang-orang yang sama sekali tak bersalah, seperti yang ia lakukan pada ayahku yang ditembak mati 1 tahun yang lalu serta suamiku yang kini mendekam di penjara.


Aku dan si tua ini terus menyusuri lorong-lorong gedung yang sepi dan segera mendapatkan lift untuk sampai pada tempat yang kami tuju. Tentu saja ini pekerjaan yang mudah. Jika terjadi perlawanan dari luar maka kepala orang ini yang akan menjadi taruhan, dan orang-orang bodoh diluar sana takkan berani mengambil risiko setinggi itu, membahayakan orang ini sama dengan membahayakan negara.


Kami pun memasuki lift, lalu aku memerintahkan sanderaanku untuk menekan tombol paling atas dan tetap memperingatkannya untuk tidak bertindak macam-macam saat sampai di sana.


Semakin ke atas, jantungku semakin berpacu cepat. Akan dilakukan negosiasi di atas sana, antara aku sang teroris dan salah satu aparatur tinggi negara. Keinginanku cukup sederhana, aku ingin orang ini mundur dari jabatannya lalu dihukum dan bebaskan suamiku. Itu saja.


Untuk mencapai atap gedung kami harus melalui tangga terlebih dahulu. Jantungku kembali berpacu seiring dengan semakin dekatnya anak tangga yang membawaku ke atas gedung. Dari sini aku sudah mendengar deruan helikopter di atas sana, mungkin ada belasan bahkan puluhan.


“Tunggulah, kalian akan berterimakasih padaku.” Seruku dalam hati.


Seperti yang kubayangkan sudah banyak orang-orang berseragam aneh disana, berpakaian hitam-hitam lengkap dan menutupi muka mereka dengan sebuah plastik transparan atau helm. Sebegitu menyeramkannya kah aku ini?


“Jika ingin dia selamat, lakukan seperti yang ku pinta. Jangan merubah rencana awal, karena kalian tak akan kuberi waktu untuk berpikir.” Teriakku dengan lantang.

“Baik, tapi lepaskan sanderaan terlebih dahulu!”

“Kalian pikir aku bodoh? Lakukan yang ku pinta dulu! Bebaskan suamiku lalu akan kulepaskan sanderaan.”


Akhirnya mereka menuruti keinginanku. Suamiku turun dari sebuah helikopter yang didaratkan di atas gedung. Pipinya terlihat lebih tirus dari terakhir kali aku melihatnya. Mukanya pucat, kedua matanya cekung, berbaju lusuh dan ada gulungan jaket di tangan kanannya.


Aku harus tetap menahan kesenanganku yang membuncah setelah melihat kembali wajah suamiku. Lalu saat aku merasa posisi suamiku cukup dekat maka perlahan kudorong sanderaan.


“Ingat! Masih ada 1 kesepakatan yang harus kalian penuhi!” Seruku sebelum akhirnya aku memeluk suamiku.


Yah, pelukan hangat yang selama ini aku tunggu. Walaupun sekarang rasanya aku dapat merasakan ia memang lebih kurus dari sebelumnya, namun pelukannya tetap hangat.


Sejenak aku memejamkan mataku. Namun rasanya seperti ada sesuatu yang menembus dada kiriku. Lalu detik berikutnya terasa sangat panas. Rasa nyeri di dada kiri semakin tak tertahankan. Lalu aku jatuh perlahan karena tangan kiri suamiku yang menahan tubuhku. Aku sudah mulai kesulitan bernapas, mataku mulai panas dan berair setelah melihat apa yang ada di tangan kanan suamiku. Lalu aku menatapnya tajam-tajam penuh kebencian.


“Maafkan aku, tapi ini demi kebaikanmu, kebaikan kita, kebaikan bangsa ini.”


Aku masih menatapnya dengan benci. Air mataku mulai mengalir ke arah hidung dan telingaku.


“A...ku...tunggu kau...di...neraka.”


Sebelum aku kehilangan sepenuhnya energi dalam tubuhku, tanganku meraba saku kanan celana, lalu salah satu jariku entah yang mana menekan sesuatu yang kuyakin adalah satu-satunya tombol di sana.


“Aku...tak ingin...mati sendiri.”


Seiring dengan gelap yang mulai menyelimuti pelupuk mataku, di gedung berbeda yang letaknya tepat dipusat keramaian ibukota negara sebuah bom waktu mulai menghitung mundur. Sudah kubilang untuk tidak merubah rencana awal, karena kalian tak akan kuberi waktu untuk berpikir.

Tak Pernah Terjawab

Malam ini sangat cerah. Langit dihiasi bintang, cuaca tidak terlalu dingin walaupun sesekali hembusan angin yang lewat dari jendela kamar membelai telingaku. Haaah, sungguh awal paragraf klise yang payah untuk mengawali sebuah cerita. Namun aku tetap senang karena ini lah hari yang dinantikan, hari dimana akan ku akhiri penantianmu.

Kurapikan lagi dasi merah yang melilit di kerah kemeja putihku, rapi, parfumku beraroma kayu yang kau suka, ku semprotkan sekali lagi dengan jarak sedikit jauh dari tubuhku agar aromanya tidak berlebihan. Sekarang giliran mengenakan jas hitam yang kau berikan saat ulang tahunku, potongannya pas sekali, mungkin karena tubuhku tinggi dan bagus seperti yang kau bilang. Ah aku jadi sedikit tersipu bila ingat itu.

Terakhir benda ini, benda yang melingkar dengan 1 permata yang berkilauan ditengahnya. Modelnya cukup sederhana seperti gayamu, namun tetap terlihat elegan jika dikenakan. Aku yakin kau akan suka.

Hari ini aku akan melamarmu. Menjawab pertanyaan lama yang selalu kau lontarkan padaku. “Kapan kamu akan melamarku?” Sedikit miris memang setelah sekian lama aku baru bisa menjawab pertanyaan sederhanamu ini.

1 jam 18 menit lagi. Semakin berkurang detiknya jantungku semakin tak karuan detaknya. Deg... deg gedeg deg... deg... seperti drum yang dipukul secara random. Ku helakan nafas panjang untuk menormalkannya kembali. Ku hitung-hitung waktu yang akan ku tempuh untuk sampai ke tempat yang kita sepakati. 30 menit mungkin jika tidak ada hambatan di jalan. Sudah tidak ada waktu lagi! Aku harus keluar dari kamar ini! Harus sampai lebih dulu darimu agar bisa memastikan apa yang aku rencanakan di sana dapat berjalan lancar.

“Sayang, kapan kamu akan melamarku? Apa lagi yang ditunggu? Hubungan kita sudah serius selama 2 tahun, keluarga kita sudah mengenal sangat baik, restu telah kita dapatkan, keuangan juga sudah cukup mapan untuk berumah tangga, kita mau menunggu apa lagi?” Tanya kau saat itu.

“Tunggu lah, kita masih punya banyak waktu. Setidaknya biarkan sampai aku naik jabatan dulu atas promosi bos bulan depan, atau paling tidak tunggu sampai aku merasa siap batin.”

Terlalu banyak alasan bodoh yang ku berikan. Bagaimana bisa alasan-alasan tak berarti itu menghalangi keinginanmu untuk selamanya bersamaku. Malam ini akan kubuktikan aku ada hanya untukmu. Biar Tuhan sedikit cemburu karena khusus malam ini aku menempatkan-Nya pada urutan kedua setelah kau.

35 menit waktu yang kutempuh untuk sampai ke tempat pertemuan kita, 5 menit lebih lama dari perkiraanku. Setelah 30 menit memastikan semuanya beres kau pun datang. Sifat tepat waktu itu lah salah satu yang kusuka darimu.

Aku rasa semua orang di sini iri pada kebersamaan kau dan aku. Tatapan mereka jelas mengungkapkan itu. Hanya para pelayan yang bersikap biasa, tentu saja semua telah kurancang untuk itu, termasuk tempat spesial, musik spesial, makanan spesial dan pelayan restoran ini.

Setelah hidang pembuka dan segelas anggur aku pun memberanikan diri, walaupun jantung ini seperti akan loncat dari dadaku, kakiku rasanya akan copot, tangan gemetar dan keringat dingin mulai keluar, aku tetap memberanikan diri. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin dihadapanmu. Aku tahu kau akan terkejut.

“Sher, mau kah kau menikah denganku?” Tanyaku dengan suara tegas namun kupertahankan agar tetap lembut sambil berlutut dihadapanmu.

Ekspresi wajahmu makin bercampur aduk. Tapi tanpa kau jawab aku sudah tau jawabanmu. Angin disekitarmu cukup jelas memberikan jawabanmu atas pertanyaanku. Ini akhir penantianmu...
**
“Orang itu datang lagi?”
“Iya, setiap bulan malah.”
“Kalau begini terus bukannya malah mengganggu pelanggan restoran kita yang lain? Apa keluarganya tidak pernah memeriksanya ke psikiater atau dokter jiwa?”
“Sudahlah yang penting dia bayar dan tidak mengganggu pelanggan kita yang lain. Lagian juga kasihan, kekasihnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas tahun lalu. Katanya sih saat perjalanan ke sini.”

The Price

Today, I learn an important lesson from my super dad


Gue: Assalamualaikum pa
Bokap: Waalaikumsalam, lagi ngapain nak?
Gue: Nnonton tv, papa?
Bokap: Sama, lagi nonton tv juga
Gue: Berdua aja sama mama?
Bokap: Gak, ada Fasya sama Imel (ponakan gue) juga. Lebaran haji kamu gak pulang?
Gue: Gak tau pa, masih belum dapat jadwal. Paling lama libur 5 hari. Itu juga kalau libur. Lebaran kali ini kurban sapi pa?
Bokap: Insyaallah. Soalnya kan kita sudah biasa potong sapi sendiri di rumah. Yah walaupun dagangan sepi, tapi kita kan masih di kasih rizki sedikit-sedikit. Nabi Ibrahim as saja sudah lama menginginkan anak, sekali dapat anak Allah minta anaknya di kurban kan. Kita yang masih di kasih rizki sama Allah masa tidak bisa kalau hanya mengurbankan sapi satu ekor?



Dan gue benar-benar bangga sama bokap. Punya jiwa sebesar itu. Sedangkan kalo gue yang berada di posisi beliau gue mungkin gak akan punya pikiran sebesar itu. Malah sebelumnya ingin mengusulkan untuk gak berkurban saja tahun ini.


So I think it’s about what we got but what we share
And only God knows the price
Thanks God you give me my super daddy.

I’m proud of you dad....

Pengagum Rahasia

Hari ini kuletakkan setangkai bunga di atas meja yang letaknya di depan ruangan tepat di samping jendela. Bunga yang kuberi sama seperti hari-hari sebelumnya. Bunga matahari, pelambang keceriaan dan kehangatan kata orang-orang. Sudah hampir satu bulan aku melakukan hal ini. Sejak orang itu masuk ke sekolahku dan mulai mengisi hari-hariku.

Sebentar kulihat keluar. Sepi, hanya ada penjaga sekolah yang sedang menyapu di lapangan. Ruangan ini takkan sampai pada penglihatannya yang sudah mulai senja. Dan dengan hati-hati kututup kembali ruangan itu, aku tak mau ketahuan atau tertangkap oleh siapapun. Biarlah aku menjadi pengagum rahasia wanita itu.

Pagi ini wanita yang kutunggu-tunggu hadir di kelasku. Ia duduk di depan, di kursi guru. Anggun dengan stelan blazer hijau yang pas badan. Rambutnya ia biarkan terurai ikal sebahu, tampak rapi dengan jepitan di belakang kepala. Di tangannya ia sudah menggenggam buku Kimia, buku yang selama ini aku remas-remas di rumah kemudian ku setrika lagi setiap ujian.

Suaranya lemah lembut menjelaskan bagaimana zat-zat organik dan anorganik itu membentuk suatu kesatuan yang dapat diperhitungkan massa molekul dan jenisnya. Dan untuk kesekian kalinya sejak bulan lalu aku menganggap itu tak rumit.

Dua jam berlalu tak terasa ia harus menyelesaikan pelajaran, ia tutup dengan salam dan mulai merapikan buku-bukunya. Tiba-tiba namaku dipanggil.

“Erick Suatmojo.....” Suaranya lemah dan penuh kasih

Hatiku mulai penuh. Sepertinya cheff Farah Quinn sedang mencampurkan garam, gula, jeruk nipis, dan saos sambal ekstra pedas di dalam hatiku. Perasaanku campur aduk. Senang, takut, bahagia, gemetar.

“Pulang sekolah kamu ke ruangan majelis ya, saya ingin bicara.” Kemudian ia melangkah dan meninggalkanku tanpa tunggu jawabanku.

Apa sebenarnya yang ingin ia bicarakan padaku? Apa ia sudah tahu kalau akulah pelaku yang hampir setiap hari meletakkan bunga matahari di atas mejanya? Kalau itu benar-benar terjadi apa yang akan aku katakan? Alibi apa yang tepat?

Selama pelajaran lain berlangsung aku sungguh tak dapat berkonsentrasi. Berulang kali aku lirik jam dinding depan kelas. Sial! Jarumnya lama sekali bergerak? Adakalanya aku lihat tidak bergerak diam di tempat kecuali jarum tipisnya. Bodoh! Bukan saatnya aku memperhatikan benda budar itu, aku harus pikirkan alasan apa yang akan aku karang jika benar dugaanku tepat.

Dan waktu 5 jam tak cukup bagiku untuk berpikir. Bel sekolah telah berbunyi. Beban terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena ranselku tapi kaki dan hatiku. Dengan menyeret kakiku aku melangkah ke ruang majelis. Dalam hati tak lepas aku berdoa pada Tuhan mohon dibukakan jalan. Sampailah aku di depan pintu. Belum sempat kusentuh ganggang pintunya, terdengar suara lembut dari dalam.

“Eric, sebelah sini”
Masih gontai langkahku namun tak tahu keberanian darimana aku tetap membuka pintu menuju meja depan ruangan tepat di samping jendela.

“Silakan duduk.” Dan aku menurut.

“Soal bunga ini...” Katanya sambil memegang setangkai bunga sambil sesekali menyium aroma bunga dihiasi senyum manisnya. Dan kembali hatiku penuh sesak kali ini bukan Farah Quinn yang berulah tetapi toko Florist yang menyetok ribuan bunga di hatiku.

“Tolong sampaikan terima kasih saya pada ayahmu. Maaf saya tidak berani berkata langsung bahwa saya dan ayahmu ada hubungan khusus.” Ucapnya sambil tersipu malu

JGEEERRR..... Bunga-bunga dihatiku langsung mati, dibantai tanpa apapun oleh petir setajam silet. Aku membatu. Seketika otakku kosong, pikiranku diculik angin yang berhembus lembut.

“Ayah?” Tanyaku dalam hati. Ya laki-laki itu memang selalu membuat kejutan dalam hidupku.

Trust me no dangdut inside